Life

I am ready!

FullSizeRender

Benjamin Franklin once said, “By failing to prepare, you are preparing to fail.”

Frankly speaking, Baby Ucok has taught hubby and I a lot. Karena di kehamilan pertama ini, kami, khususnya saya, seperti dibawa kembali lagi ke bangku sekolah. Bukan sekolah formal, tapi sekolah kehidupan on how to prepare us to become parents.

Each and every day, me personally learn a bunch of new things. Misalnya, di trimester awal, ketika lagi mabok berat (mual doang sih, muntah jarang banget, paling kalo kecolok pas sikat gigi doang baru muntah), langsung deh searching di google on how to overcome nausea. Tips-nya sih macem-macem ya yang muncul. Ada yang bilang, termasuk obgyn saya, nyaranin makan porsi kecil, tapi sering. Luckily, it works in me. Alhasil, di dalam tas selalu stand by cemilan semacam pisang rebus, ubi rebus, dan sejenisnya. Udah nyoba sih cemilan yang lain, seperti roti, tapi ga mujarab. Si pisang, ubi, singkong ini justru yang paling asoy geboy di saya untuk menghadapi mabok selama hampir empat bulan. Lumayanlah, si baby Ucok ternyata seleranya nusantara dan sederhana 🙂

Nah, balik lagi ke soal sekolah. Di postingan sebelumnya, saya sempat share panjang lebar soal posisi bayi Ucok yang sungsang di usia 32 weeks. Sebenarnya itu pun bagian dari “sekolah” itu sendiri. Waktu dokter bilang saya harus prepare untuk operasi caesar akibat posisinya yang sungsang itu, saya bukannya pasrah. Sebaliknya, saya bertanya dan belajar dari guru prenatal gentle yoga saya yang juga adalah seorang bidan, gimana supaya si baby balik arah. And again, it works!

Jujur aja, sejak hamil ini, saya jadi lebay. Lebay dalam artian, terlalu banyak baca, cari info, nanya sana-sini, ikut kelas ini-itu baik online maupun offline, semuanya dikarenakan saya merasa nol, buta, soal kehamilan. Ada juga rasa was-was, mungkin karena saya pasien IVF, saya selalu curios apakah kehamilan saya ini udah normal, apakah sudah sama seperti kehamilan bumil-bumil pada umumnya? Sebelum saya mendapatkan jawaban yang masuk akal, saya ga bakal berhenti cari tau. Tapi mungkin karena faktor pekerjaan saya sebagai seorang jurnalis yang mengharuskan saya well-prepared sebelum ketemu dan interview orang, kurang lebih ini juga yang membuat saya melakukan hal yang sama sebelum ketemu baby Ucok. Ya wajar sih ya, after all we’ve been through to get this baby *mewek*

Memasuki trimester ke-3, kami akhirnya tau apa yang kami mau. Sejak awal kehamilan, meski saya udah rajin yoga dan berenang, tidak berarti saya memang berencana untuk lahiran normal (pervaginam). Karena waktu itu, saya juga ga tau mau lahiran model apa kelak. Karena goal saya waktu itu cuma satu: yang penting si baby lahir aja. Puji Tuhan, makin ke sini, entah mengapa saya makin terpapar dan ketemu banyak orang yang melakukan gentle birth.

Apa sih gentle birth? Gentle birth adalah konsep persalinan yang alami dan memperhatikan semua aspek tubuh manusia secara holistik (fisik, mental, dan spiritual). Gentle berarti lembut. Artinya, proses persalinan gentle birth ini dilakukan dengan kenyamanan dan bukan dianggap sebagai tindakan medis yang traumatis. Prinsipnya, metode gentle birth ini sebenarnya mengembalikan proses persalinan ke basic-nya. Jadi, posisi melahirkannya pun bisa dengan cara berdiri, berjongkok, setengah berjongkok, atau merangkak. Sama seperti yang dilakukan oleh suku-suku primitif di berbagai penjuru dunia. Makanya banyak penganut metode ini memutuskan lahiran di rumah atau di dalam air karena dianggap dapat memberikan kenyamanan lebih.

Saya sih belum sampai ke arah sana ya (persalinan di rumah atau di dalam air), tapi saya lebih memilih untuk melahirkan secara alami, nyaman, dan minim trauma tapi di rumah sakit. Hehehe.. Kenapa? Karena kalo emergency, bisa cepat ditangani. Nah, kembali ke gentle birth, teorinya sih begitu ya. But, you’ll never know until you try. Ya untuk itu, saya memutuskan untuk ikut beberapa kelas, seperti prenatal gentle yoga dan childbirth education class. Kenapa? Kalau merujuk ke statement opa Benjamin Franklin di atas, kalo saya nggak bikin persiapan apa-apa, artinya saya sedang mempersiapkan diri untuk gagal. Karena saya nggak mau gagal, makanya saya ikut persiapan. Persiapan dalam hal ini bukan sekadar beli baju bayi, beli crib atau breastpump ya pemirsa. Tapi persiapan mental juga.

Di prenatal gentle yoga, saya diajarin banyak hal, termasuk gimana bikin baby Ucok tidak sungsang. Gimana supaya tetap fit selama hamil, gimana bikin baby turun ke panggul, gimana menghadapi kontraksi tanpa harus mencakar suami, dll.

Di childbirth education class, saya dan suami sama-sama belajar selama dua hari full. Belajarnya apa? Mulai dari basic theory of gentle birth, sampe simulasi melahirkan. Jadi selama di kelas, kami disadarkan bahwa kehamilan dan persalinan itu bukan cuma urusan ibu hamil, tapi juga urusan tiga pihak: ibu-bapak-janin. Afirmasi, komunikasi, hubungan penting banget dibangun selama kehamilan, karena itu sangat mempengaruhi proses persalinan kelak. Apalagi, saya tau persis banyak suami-suami yang pengen banget do something during the labor process, tapi nggak tau mesti ngapain. Nah, di kelas ini para suami dikasi PR banyak banget. Artinya, peranan suami PENTING pake BANGET selama labor process. Kenapa? Karena selama gelombang cinta muncul (baca: kontraksi), istri udah pasti ga bakal bisa berpikir normal. Saya yakin, seluruh teori, simulasi yang udah dipelajari mendadak menguap saat itu! HAHAHAHA.. (One of my friend told me so). Makanya peranan suami penting banget di sini.

Overall, setelah ikut kelas ini-itu di sana-sini, saya dan suami jadi lebih siap menghadapi persalinan normal (pervaginam). Rasa takut hampir nggak ada lagi, adanya rasa penasaran. Karena menurut si suami, saya udah terlalu banyak belajar teori, HAHAHAH.. tinggal prakteknya aja nih. Sekarang usia kehamilan saya sudah 38 weeks, memasuki 39 weeks. Gelombang cinta (baca: kontraksi) udah datang silih berganti beberapa hari terakhir meski belum teratur. But I want to tell you all: I am ready to rumble. Bring it on, baby! 🙂

Advertisements