Life

We (will) have a baby!


Foto buat akta nikah akhirnya go public juga

Sebenarnya dan sejujurnya saya belum kepengen posting tulisan ini sampe usia kehamilan mencapai 12 minggu (which will happen in the next 4 weeks). Tapi apa daya, Morula udah telanjur posting foto saya di Facebook. Ketahuan juga akhirnya. Hehehehe..
Jadi semuanya berawal karena diskon. Meskipun diskonnya ga seberapa (ga nyampe Rp5 juta kalo ga salah). Ya namanya perempuan ye kan, diskon adalah alasan terkuat untuk belenjong. Yang percaya katakan Amen! šŸ˜†šŸ˜†šŸ˜†

Saya dan suami sebenarnya udah berencana dari awal tahun untuk ikut program bayi tabung. Tapi nggak kunjung terealisasi karena kita sama-sama banyak alesan. Kenapa bayi tabung? Kenapa ga inseminasi? Kenapa ga terapi hormon? Kenapa ga ke tukang pijet? Atau sekalian aja kenapa ga ke dukun patah? Hahahhaha.. Saya juga lupa jawaban persisnya apa. Kami cuma menganggap program IVF (in vitro fertilisation) atau yg lbh dikenal dengan bayi tabung kami anggap program menuju punya anak yang peluang berhasilnya paling tinggi –> based on our “cupu” research. Apalagi pada akhirnya kami tau bahwa saya terkena PCOS.

Oh ya ini juga usaha kami untuk punya anak yang pertama kali kami lakukan (mudah-mudahan jadi yang terakhir). Kenapa pertama? Karena kami memang belum pernah nyoba program yg lain dan kalo gagal, sepengetahuan kami, ga ada program lain yg bisa dicoba setelah ini. Dead end. Ya kalo ngomong pengobatan alternatif, forget about it. Kami berdua memang ga pernah percaya sama hal-hal begindang ya pemirsa. Jadi we are close for discussion about those “pengobatan alternatif” thing.

Nah, karena saya dan suami memang udah berencana ikut program bayi tabung, jadi saya udah follow akun instagram-nya Morula sejak awal tahun. Oh ya, Morula adalah klinik fertilitas milik RS Bunda. Pas saya buka di instagram, ada iklan promo program bayi tabung: selama bulan Juli 2016 ada diskon untuk program IVF. Sebagai perempuan modis (baca: modal diskon), tanpa ba bi bu, saya langsung dong meluncur ke TKP. Oh ya, kami memilih untuk ikut program di klinik Morula RS Bunda Margonda karena menurut google map, jarak antara rumah dan RS Bunda Margonda sekitar 21 km, sementara ke RS Bunda Menteng bisa dua kali lipatnya. Belum lagi urusan kena “ganjil-genap”. Ya udahlah ya, ga udah menantang maut ye kan. Hidup udah susah, ga usah ditambahin susah lagi emmmm???

Oh ya, tips pertama bagi yang pengen ikut program IVF, carilah RS atau klinik fertilitas yg terdekat dari rumah. Kenapa? Karena ada fase suntik tiap malam selama hampir 2 minggu yang harus diikuti. Ga boleh bolong! Dan ada kalanya, dalam sehari harus 2x ke RS. Jadi kebayang kan kalo tiap malam harus berjuang 50 km. Saya sih males ya. Oh ya, ada juga sih yang nekat suntik sendiri. Saya sih nggak, nggak tau kalo mas Anang ya šŸ˜œ

Setelah daftar, kami disuruh ikut screening suami-istri untuk ngecek apa sebenarnya yang menjadi masalah ketidaksuburan. Puji Tuhan, suami baik-baik saja, spermanya bagus dan jumlahnya banyak. One problem solved. Masalahnya ternyata ada di saya. I was diagnosed with PCOS (Polycystic Ovary Syndrom). Apa itu PCOS? Silakan google ya buibu. Banyak kok penjelasannya. Saya cuma bisa kasi penjelasan dikit.

Long story short, jadi ovarium saya ini ibarat pabrik produk Cina. Produksi massal dalam jumlah besar, tapi ga berkualitas. Ovarium saya memang menghasilkan sel telur yang buanyak tiap bulannya, hanya saja kecil-kecil, perkembangannya lambat banget dan nggak kunjung membesar. Di awal program, ukuran folikel saya rata-rata 0.6-0.7 cm. Kecil kan? Padahal expected size-nya itu mestinya 1.8 cm untuk siap dibuahi. That’s why after almost five years of marriage, we haven’t had any kids yet.

Program pun dimulai saat saya menstruasi hari ke-2. Kalo nggak salah, sekitar tanggal 10 Agustus. Tiap jam 7 malem saya standby di RS utk menerima suntikan. Pengen tau suntiknya di mana? Perhatikan puser Anda, taruh dua jari mendatar di bawah puser. Nah di situ area suntik saya selama 12 hari. Ya 12 hari pemirsa. Suntiknya ya di situ-situ aja.
Oleh dokter Mira Myrnawati yang cantik dan baik hati, saya dikasi suntikan awal (untuk 4 hari pertama) dengan dosis 225. Setelah 4 hari suntikan, cek darah dan USG utk ngecek perkembangan folikel. Hasilnya? Ga berkembang pemirsa! Saya resmi stress!!

Akhirnya dosis ditambahin lagi jadi 300 untuk dua hari ke depan. Setelah itu cek darah lagi dan USG lagi. Hasilnya? Berkembang sih, cuma ga signifikan. Ga ada folikel yang ukurannya di atas 1 cm. Bayangin pemirsa, udah 6 hari disuntik, masih juga susah berkembang. Iman saya diuji bener ini mah. Nangis ga? Ga usah ditanya. Percayalah, saya ini tampang Rambo, hati hello kitty. Buat yang suka beredar di mall-mall di Depok, mungkin Anda pernah liat perempuan nangis-nangis sendirian di mall? 90% itu saya! Percayalah! Ga usah ragu lagi. Atau pernah lihat perempuan nyetir sendirian di daerah Depok ke arah Cibubur sambil berurai air mata? Itu juga saya. Ga usah ragu pemirsa.

Cengeng? Oh man. Umur gue udah 34. Semakin tua, semakin beresiko untuk punya anak. Kenapa kami memutuskan untuk ikut program IVF sekarang, karena kami berharap saya bisa melahirkan di usia yang nggak lewat dari 35. Emang kenapa kalo lewat dari 35 tahun? Google sendiri ya buibu resiko-resikonya. We did our own research before taking this giant step.

Di tengah rasa frustrasi, sama dr Mira, dosis suntikan saya dinaikin lagi, jadi 375. Enak? Nikmat dunia akhirat pemirsa. Kenapa? Setiap malam, saya harus disuntik 3x di area yang sama. Ingat ya, di area yg sama. Dan 3x. Jangan lupa itu. Rasanya gimana? Ga usah dibayangin deh. Saya mah kalo ga pengen banget punya anak, ga bakal mau kayaknya liat perut biru-biru lebam macam abis ditonjok Mike Tyson akibat disuntik tiap hari. Bahkan di momen-momen suntikan terakhir, perut saya membuncit bak hamil 5 bulan. Begah, bloated, macam mau meledak (ini disebut OHSS). Puji Tuhan, setelah dinaikin dosis suntikan, si folikel yg berisi oocyte ini pun membesar, diikuti perut yang membuncit. Puji Tuhan, ada yg ukuran 2 cm, meski nggak banyak. At last! 

Di akhir-akhir fase suntikan ini, saya sempet curhat sama dokter Mira kenapa saya kok lama banget fase suntiknya. Sampe 12 hari bok! Saya sempet bilang sama dokter Mira, “Dok, kalau diandaikan saya ini murid di dalam sebuah kelas, saya adalah murid paling bodoh kali ya? Udah dijarin berulang kali, ga nangkep-ngangkep juga (baca: udah dikasi fase suntikan panjang, dosis tinggi, folikelnya masih juga susah berkembang ke expected size).” Dokter Mira senyum-senyum dengernya. Soalnya, salah seorang temen saya yang juga sesama IVF survivor, cuma butuh 8x suntikan dengan dosis 150 (jadi, suntikannya cuma 1x sehari, ga semalang nasib saya yang 3x sehari). 

baru keluar dari ruang operasi pasca OPU
Tanggal 25 Agustus, saya panen sel telur. Kalo di Morula, pake istilah OPU (Ovum Pick Up). Operasinya berlangsung kurang lebih 1 jam dan dibius ya pemirsa. Puji Tuhan lagi, ada 14 oocyte yang berhasil dipanen. Dari 14 oocyte, ada 4 yg belum mateng. Artinya hanya 10 oocyte yang akan dibuahi sama sperma. Dari hasil pembuahan, hanya 4 yang membelah menjadi embryo dengan kondisi: 3 good, 1 moderate. Stress? Ya iyalah. Pasien lain pada punya embryo buanyak. Di atas 5 bahkan ada teman saya yang embryo-nya sampe belasan dengan kondisi embryo excellent. Sementara hayati? Hayati mah lelah ya. Tapi ya sudahlah. Que sera sera. Whatever will be will be.

kiri: sebelum Embryo Transfer bersama dokter-dokter dan suster-suster hebat; kanan: usia kehamilan 8 weeks
Dua hari kemudian, embryo ditransfer (ET) ke rahim. Saat ET, dokter Mira ngusulin untuk tansfer 1 embryo good dan 1 embryo moderate. Suami saya nggak setuju. We prayed. Finally, we decided to transfer 2 good embryos. We froze the rest at the hospital, in case this one didn’t work out.

our embryos: we transfer those two babies in the middle
Lalu tibalah pada fase mendebarkan: 2WW (two weeks waiting). Buibu para IVF survivor pasti tau betul rasanya. Ini semacam 2 minggu sebelum terima rapor atau 2 minggu sebelum Jessica nerima putusan hakim atas kopi Vietnam rasa sianida yang (katanya) ditaro di kopi Mirna. Apa sih!

Saya minta cuti dua minggu dari kantor. Dikasi banyak pantangan ini-itu demi menjaga agar si embryo menempel di rahim. Hari pertama, saya stress. Hari kedua, stress bertambah 7x lipat. Kebayang kan kalo hari ke-3 stress-nya gimana? Mungkin keluar api dari mulut saya. Naga keles. Kerjaan saya tiap hari cuma baca buku dan melotoin laptop (selain ke WC, makan, minum dan tidur). Selama dua minggu, si suami jadi ojek gendong. Karena kamar kami di atas. Dan saya belum sempet beberes kamar bawah sebelum ET. Jadi ya udahlah ya, kami tetap tidur di kamar atas.

Sebelum menginjak hari ketiga, si suami udah kasian liat saya yang cuma bisa ngejogrok di kasur. Again, we did our research: what to do during 2WW? Praise God! There is no such thing that total bedrest will help the embryo attach on the uterus. Malah para buibu IVF survivor di luar negeri mayoritas melakukan aktivitas yang menyenangkan (kecuali kalo Anda emang menganggap bedrest itu menyenangkan. Saya sih nggak. Nggak tau kalo mas Anang). Jadi ada yang hobi masak, ya masak. Yang demen gardening ya gardening. Malah ada yang decorating home. Ya nggak geser lemari juga keles. Intinya sih melakukan aktivitas menyenangkan (tapi ga melelahkan) yang bikin kepala ga stress. Karena, IMHO, pasien IVF butuh dukungan hormon utk men-support embryo di rahim. Hormon dihasilkan atas perintah otak. Jadi kalo otaknya stress, hormon apa yang dihasilkan? Saya sih nggak paham ya. Yang saya percaya Amsal 17:22 bilang “Hati yang gembira adalah obat yang manjur.” So, I think I just need to be happy to produce good hormones for the baby. 

Begitu si suami lihat istrinya udah macam tahanan kota, dia langsung bawa saya kabur ke mall. Ke mall? Ya ke mall. Udah jujur aja deh, perempuan mana yang nggak hepi diajak suaminya ke mall? Saya percaya, semua pasti berkata : Amen! Hahahahha.. Jarang-jarang loh si suami ngajakin saya ke mall. Biasanya juga saya sendirian ke mall. 
Besoknya ngapain? Saya ke pasar. Saya masak. Masak pasta aglio olio tuna, besoknya pasta yang sama, tapi pake salmon. Besoknya masak soto padang. Maklum, anaknya emang demen masak pemirsa. Besokannya ke bioskop. Besokannya lagi ke toko buku. Besokannya lagi shopping-shopping ke mall. Ya gitu deh seterusnya. Yang penting aktivitasnya ga melelahkan tapi menyenangkan. 

Trus, apakah saya penasaran dengan rapor yang akan diterima tanggal 10 September? Ya iyalah. Tapi rasa penasarannya berkurang drastis. Mungkin kurang dari 50%. Gini ya buibu, program IVF ini bukan urusan kita doang sebagai perempuan. Tapi juga suami. Sejujurnya, suami saya yang tidak romantis itu telah berkata: “Kalaupun kita nggak bisa punya anak, aku tetap mencintaimu.” Ga percaya si suami ngomong begitu? His eyes told me so *lope-lope. Jadi ya saya sih udah pasrah aja. Kalo hasil BHCG jelek, saya juga ga bakal coba lagi. Saya hanya tiba pada kesimpulan bahwa Tuhan yang kami sembah selama ini, ga kasi kami upah di dunia, tapi nanti. Dan setiap doa pagi saya, saya selalu bilang sama Tuhan: “Sekalipun program ini gagal dan saya nggak bisa hamil dan melahirkan anak, aku tetap menyembahMu, aku tetap memujiMu, aku nggak akan kecewa.” 
Oh ya, sejak awal pernikahan, saya dan suami udah punya pemikiran yang sama bahwa anak/keturunan adalah bonus. Ibarat beli motor, loe ga dikasi bonus helm atau jaket. Trus ngamuk-ngamuk gitu? Biasa aja keles. Kalo suami saya malah sebelum kita sign up program IVF, dia udah nawarin untuk adopsi anak aja. Katanya supaya saya nggak capek ikut program dan hamil. Saya aja yang keukeuh ga mau. Semakin mendekati terima rapor a.k.a test BHCG, saya makin pasrah. Udah niat mau kursus diving aja kalo gagal, biar kalo suatu saat nanti ke Raja Ampat nggak snorkeling doang bisanya. Hehe.. 

10 September pun tiba. Saya cek darah pagi. Trus kami nggak nunggu karena kata orang lab di RS Bunda, hasilnya siang/sore. Ya kami mau pulang aja, karena biasanya hasil cek darah selalu ditelpon sama suster-suster cantik dan baik hati di Morula. Dodol? Ya iyalah. Lha wong udah pasrah. Akhirnya jam 1 siang ditelpon sama suster, kalo BHCG saya bagus: 614. Saya dan suami: seneng sih, tapi dengan ekspresi datar. Dodol bukan? Kita disuruh suster untuk langsung balik ke RS utk ketemu dokter saat itu juga. Kita balik deh ke RS dan ketemu dokter Mira.

Sebenarnya, penasaran terbesar saya bukan apakah hasilnya positif atau nggak, tapi apakah kantong kehamilannya 1 atau 2? Kembar atau nggak? Pede banget ye kan? Orang mah ngarep positif, saya ngarep hamil 1 anak aja, jangan kembar. Jadi boleh dikata, momen yang paling deg-degan dan excited ya waktu USG di kehamilan minggu ke-6 (sekitar tanggal 24 Sept kalo nggak salah). Saya penasaran bukan main. Makanya pas tau kantongnya cuma 1, saya melonjak kegirangan. Praise the Lord! Momen paling excited seumur hidup keknya.

Sekarang kehamilan saya akan memasuki minggu ke-9. Lagi mual-mualnya pemirsa. Tapi ya mual-mual ini nggak seberapa dibanding program IVF yang udah saya lewati. Trust me!

So, untuk para buibu IVF survivor, saya cuma mau pesan: Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Jangan stress, ntar obatnya nggak manjur hehehe.. percaya aja, kalo rejeki mah ga ke mana ya. 

Salam dua garis! 

Advertisements

2 thoughts on “We (will) have a baby!”

  1. Pas baca ini, ada rasa takjub, ada rasa seneng, ada rasa sedih jg, semua campur aduk tapi dari semuanya itu, ga pernah bisa berhenti merasa bahwa setiap kejadian baik ataupun kurang baik dalam hidup kita, Dia adalah Allah yang berkuasa dan berdaulat dalam hidup kita, termasuk dirimu kak, mujizat-Nya sungguh masih ada ^^. Ini proses hidup kalian berdua kak dan percayalah, ini akan menjadi bagian terhebat dalam hidup kalian melihat karya Tuhan yang sangat luar biasa terjadi dalam hidup kalian šŸ™‚ Apapun yg terjadi, memang sudah sepatutnya kita terus mengasihi Dia dan menyembah Dia, karena bener kyk yg loe blg kak, hidup di dunia ini cuma sementara, kita harus kejar kehidupan kekal, ada upah kita tersedia di sana. I’m very happy to hear that, really miss you to chit chat again kak. Hopely we can meet very soon ya. Keep pray and keep trust in Him! *muach*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s