Ideas

Harapan baru (?)


Mereka yang diganti dan menggantikan
Mereka yang diganti dan menggantikan

Nyaris dua minggu lalu Presiden Jokowi me-reshuffle Kabinet Kerja. Sejumlah menteri terpaksa pensiun dini, ada juga yang pindah kantor. Beberapa menteri memang sudah diprediksi harus hengkang. Ya penyebabnya macam-macam pastinya, mulai dari sembarangan bicara, hingga tudingan “tidak bisa kerja”. Namanya saja “Kabinet Kerja”, masa ga bisa kerja sih, Pak?

Tapi yang menarik dari proses reshuffle ini, terlihat jelas ternyata Jokowi dan JK pun masih berseberangan pendapat. Tampak jelas, hanya dalam beberapa waktu pasca pelantikan, JK sudah misuh-misuh menghadapi “kepretan” Menko Kemaritiman yang baru, Rizal Ramli. Selidik punya selidik, ternyata sejak awal sebelum Kabinet Kerja terbentuk, Jokowi sudah mengadang-gadang nama Rizal Ramli. Hanya saja, JK menolak.

Bahkan kabarnya, penunjukan Rizal sebagai Menko Kemaritiman adalah tanpa persetujuan JK. Beberapa kali sebelum Lebaran, Rizal ketemu secara sembunyi-sembunyi dengan Jokowi untuk membicarakan masalah ekonomi, katanya.

Masuknya Rizal Ramli dalam Kabinet Kerja memang tidak lepas dari pengaruh Luhut Pandjaitan yang sudah lama mengenal Rizal. “Kami ini orangnya Gus Dur,” kata Rizal. Kedekatan Rizal dan Luhut berawal ketika Rizal sedang meraih gelar Ph.D di Boston University pada tahun 1990. Di saat yang bersamaan, alm. ekonom kenamaan, Sjahrir juga sedang mengenyam pendidikan doktor di Harvard University. Tanpa sengaja, alm istri pertama Rizal, Herawati berteman akrab dengan istri Sjahrir, Kartini Panjaitan, adik kandung Luhut Panjaitan. Dari sinilah perkenalan Rizal dan Luhut dimulai. Saat kembali ke tanah air, Rizal kembali ke Bandung (Rizal dan alm istrinya sama-sama mengenyam pendidikan S1 dari ITB), di situlah keakraban Rizal dan Luhut dimulai.

IMHO, tidak ada yang salah soal kegiatan endorse-mengendorse calon menteri sejauh sang calon adalah sosok yang mau kerja cerdas. Setuju?

Jika dilihat komposisi menteri yang baru ini, mudah-mudahan ada secercah harapan agar Indonesia bisa luput dari cengkraman krisis global dan perlambatan ekonomi (meski Gubernur BI, Agus Martowardojo, hari ini masih optimistis pertumbuhan masih mampu menginjak 5.1%). Keberadaan Darmin Nasution sebagai Menko Perekonomian menggantikan Sofyan Djalil,  mudah-mudahan dapat memulihkan kepercayaan pasar yang sedang kacau.

Sebelum ditunjuk menjadi Menko Perekonomian, Darmin sempat menjadi Gubernur Bank Indonesia, Dirjen Pajak dan Kepala Bapepam (sekarang OJK). Jam terbang doktor lulusan Paris-Sorbonne University untuk masalah ekonomi tak perlu diragukan lagi.

Demikian juga halnya dengan kehadiran Tom Lembong sebagai Menteri Perdagangan yang baru (menggantikan Rachmat Gobel). Sebagai orang “pasar”, mudah-mudahan saja, Tom yang lulusan Harvard University ini tak mengulang kesalahan pendahulunya.

Ya semoga!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s