Published articles

Half anniversary


Kemarin, enam bulan yang lalu adalah hari dimana saya dan suami sepakat untuk hidup bersama. Selamanya? Ya tentu saja. Dangdut? Biarin, emang gua pikirin. Weeee..

Yang jelas, enam bulan bersamanya merupakan pengalaman kehidupan yang luar biasa. Saya sengaja menulis ini bukan ingin promosi suami (tipi kale dipromosiin), tapi supaya apabila suatu saat nanti ketika saya sedang sedang kesal dengan si suami, saya bisa kembali membaca tulisan ini dan saya pun akan jatuh cinta kembali dengannya dan kembali mengingat saat-saat indah itu.

Hmmm.. Mulai dari mana ya? Begini saja. Suami saya, Paulus jauh dari sempurna. Tampang? Ya jauhlah dari artis idola saya Brad Pitt. Untungnya, saya emang nggak nyari suami ganteng dari dulu. Hehehee. Kenapa? Jawabannya cuma satu: “Makan tu ganteng!”

Romantis? Apalagi ini, jauuuhhhh banget! Tapi ketidakromantisannya itu justru membuat saya makin gemes untuk mencubitnya dan mencium kepalanya yang selalu bau sampo bayi itu. Hiks, kangen deh.

Si suami ini bagi saya adalah partner. Ya partner dalam segala hal. Ngobrol, diskusi, tukar pikiran dalam hal apa aja. Itu yang bikin saya jatuh cinta dengannya, tentu saja selain karena kerendahan serta kebaikan hatinya, juga kejujurannya. Saya nggak habis pikir,  akan jadi apa saya kalau tanpa dia. Dangdut ga sih? Duh, jadi mellow deh malem-malem nulis beginian tanpa si suami di rumah. Hiks.. i miss you so bad, honey.. *si suami udah 2 minggu ngebor di Jambi

Waktu saya lagi mumet, dia punya segala macam cara untuk menghibur dan membantu saya keluar dari kemumetan. Tatkala saya kecapean akibat pekerjaan dan meeting/kegiatan KPA, dia ga ragu-ragu untuk memijat sambil me-review hari,  bertukar argumentasi dan tak lupa dengan segala teori-teori kehidupan yang ada di kepalanya yang kadang kala beda tipis sama Mario Teguh (Salam Superrr!!). Huuuu.. I miss you my honey bunny sweetie pie..

Jujur, sampe hari ini saya belum punya alasan untuk menyesal menjadi istrinya. Dan jangan sampae ada! Tolak dalam nama Yesus! Justru saya malah bertanya-tanya dalam hati: “Jadi apa saya tanpa dia?” Lebay? Nggak kok. Pertanyaan ini tulus dari dalam hati saya. Suwer terkewer-kewer deh! Hehehe..

Ah, pokoknya saya bersyukur sama Tuhan telah mempertemukan saya dengan si suami. Sayangku, lekas pulang ya. Let’s celebrate our half-anniversary. I miss you and I love you..

image

Advertisements

11 thoughts on “Half anniversary”

  1. ya ampuun si kaUL bikin gue terharu loh, sampe nangis neh, ayo tanggung jawab!!! hahahahaha .. gue emg blm ngerasain punya suami, blm ngerasain hidup berumah tangga tapi melalui tulisan ini, gue bisa jadi agak menyelami ayat ini “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.” (Pengkh 4:9) hahaha ..

    Be strong kaUL, dia akan kembali setelah ia menunaikan tugasnya di sana dan dia pasti juga sedang merindukan dirimu, dia juga sedang merasakan bagaimana hidup tanpa belahan jiwanya bagai sendok dan garpu, walau masi berfungsi tapi kurang sempurna (cieeehh :p) hahahahha..

    *bighug*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s