Life

I am ready!

FullSizeRender

Benjamin Franklin once said, “By failing to prepare, you are preparing to fail.”

Frankly speaking, Baby Ucok has taught hubby and I a lot. Karena di kehamilan pertama ini, kami, khususnya saya, seperti dibawa kembali lagi ke bangku sekolah. Bukan sekolah formal, tapi sekolah kehidupan on how to prepare us to become parents.

Each and every day, me personally learn a bunch of new things. Misalnya, di trimester awal, ketika lagi mabok berat (mual doang sih, muntah jarang banget, paling kalo kecolok pas sikat gigi doang baru muntah), langsung deh searching di google on how to overcome nausea. Tips-nya sih macem-macem ya yang muncul. Ada yang bilang, termasuk obgyn saya, nyaranin makan porsi kecil, tapi sering. Luckily, it works in me. Alhasil, di dalam tas selalu stand by cemilan semacam pisang rebus, ubi rebus, dan sejenisnya. Udah nyoba sih cemilan yang lain, seperti roti, tapi ga mujarab. Si pisang, ubi, singkong ini justru yang paling asoy geboy di saya untuk menghadapi mabok selama hampir empat bulan. Lumayanlah, si baby Ucok ternyata seleranya nusantara dan sederhana 🙂

Nah, balik lagi ke soal sekolah. Di postingan sebelumnya, saya sempat share panjang lebar soal posisi bayi Ucok yang sungsang di usia 32 weeks. Sebenarnya itu pun bagian dari “sekolah” itu sendiri. Waktu dokter bilang saya harus prepare untuk operasi caesar akibat posisinya yang sungsang itu, saya bukannya pasrah. Sebaliknya, saya bertanya dan belajar dari guru prenatal gentle yoga saya yang juga adalah seorang bidan, gimana supaya si baby balik arah. And again, it works!

Jujur aja, sejak hamil ini, saya jadi lebay. Lebay dalam artian, terlalu banyak baca, cari info, nanya sana-sini, ikut kelas ini-itu baik online maupun offline, semuanya dikarenakan saya merasa nol, buta, soal kehamilan. Ada juga rasa was-was, mungkin karena saya pasien IVF, saya selalu curios apakah kehamilan saya ini udah normal, apakah sudah sama seperti kehamilan bumil-bumil pada umumnya? Sebelum saya mendapatkan jawaban yang masuk akal, saya ga bakal berhenti cari tau. Tapi mungkin karena faktor pekerjaan saya sebagai seorang jurnalis yang mengharuskan saya well-prepared sebelum ketemu dan interview orang, kurang lebih ini juga yang membuat saya melakukan hal yang sama sebelum ketemu baby Ucok. Ya wajar sih ya, after all we’ve been through to get this baby *mewek*

Memasuki trimester ke-3, kami akhirnya tau apa yang kami mau. Sejak awal kehamilan, meski saya udah rajin yoga dan berenang, tidak berarti saya memang berencana untuk lahiran normal (pervaginam). Karena waktu itu, saya juga ga tau mau lahiran model apa kelak. Karena goal saya waktu itu cuma satu: yang penting si baby lahir aja. Puji Tuhan, makin ke sini, entah mengapa saya makin terpapar dan ketemu banyak orang yang melakukan gentle birth.

Apa sih gentle birth? Gentle birth adalah konsep persalinan yang alami dan memperhatikan semua aspek tubuh manusia secara holistik (fisik, mental, dan spiritual). Gentle berarti lembut. Artinya, proses persalinan gentle birth ini dilakukan dengan kenyamanan dan bukan dianggap sebagai tindakan medis yang traumatis. Prinsipnya, metode gentle birth ini sebenarnya mengembalikan proses persalinan ke basic-nya. Jadi, posisi melahirkannya pun bisa dengan cara berdiri, berjongkok, setengah berjongkok, atau merangkak. Sama seperti yang dilakukan oleh suku-suku primitif di berbagai penjuru dunia. Makanya banyak penganut metode ini memutuskan lahiran di rumah atau di dalam air karena dianggap dapat memberikan kenyamanan lebih.

Saya sih belum sampai ke arah sana ya (persalinan di rumah atau di dalam air), tapi saya lebih memilih untuk melahirkan secara alami, nyaman, dan minim trauma tapi di rumah sakit. Hehehe.. Kenapa? Karena kalo emergency, bisa cepat ditangani. Nah, kembali ke gentle birth, teorinya sih begitu ya. But, you’ll never know until you try. Ya untuk itu, saya memutuskan untuk ikut beberapa kelas, seperti prenatal gentle yoga dan childbirth education class. Kenapa? Kalau merujuk ke statement opa Benjamin Franklin di atas, kalo saya nggak bikin persiapan apa-apa, artinya saya sedang mempersiapkan diri untuk gagal. Karena saya nggak mau gagal, makanya saya ikut persiapan. Persiapan dalam hal ini bukan sekadar beli baju bayi, beli crib atau breastpump ya pemirsa. Tapi persiapan mental juga.

Di prenatal gentle yoga, saya diajarin banyak hal, termasuk gimana bikin baby Ucok tidak sungsang. Gimana supaya tetap fit selama hamil, gimana bikin baby turun ke panggul, gimana menghadapi kontraksi tanpa harus mencakar suami, dll.

Di childbirth education class, saya dan suami sama-sama belajar selama dua hari full. Belajarnya apa? Mulai dari basic theory of gentle birth, sampe simulasi melahirkan. Jadi selama di kelas, kami disadarkan bahwa kehamilan dan persalinan itu bukan cuma urusan ibu hamil, tapi juga urusan tiga pihak: ibu-bapak-janin. Afirmasi, komunikasi, hubungan penting banget dibangun selama kehamilan, karena itu sangat mempengaruhi proses persalinan kelak. Apalagi, saya tau persis banyak suami-suami yang pengen banget do something during the labor process, tapi nggak tau mesti ngapain. Nah, di kelas ini para suami dikasi PR banyak banget. Artinya, peranan suami PENTING pake BANGET selama labor process. Kenapa? Karena selama gelombang cinta muncul (baca: kontraksi), istri udah pasti ga bakal bisa berpikir normal. Saya yakin, seluruh teori, simulasi yang udah dipelajari mendadak menguap saat itu! HAHAHAHA.. (One of my friend told me so). Makanya peranan suami penting banget di sini.

Overall, setelah ikut kelas ini-itu di sana-sini, saya dan suami jadi lebih siap menghadapi persalinan normal (pervaginam). Rasa takut hampir nggak ada lagi, adanya rasa penasaran. Karena menurut si suami, saya udah terlalu banyak belajar teori, HAHAHAH.. tinggal prakteknya aja nih. Sekarang usia kehamilan saya sudah 38 weeks, memasuki 39 weeks. Gelombang cinta (baca: kontraksi) udah datang silih berganti beberapa hari terakhir meski belum teratur. But I want to tell you all: I am ready to rumble. Bring it on, baby! 🙂

Advertisements
Life

The power of Prenatal (gentle) yoga

FullSizeRender-2
My prenatal yoga class at Yogasana – Arcadia Senayan

Kemarin adalah salah satu hari yang paling berbahagia dalam hidup saya. Kenapa? Bukan karena abis menang lotre atau dapat duren runtuh (yakaleee..), tapi karena saya mendapatkan kabar gembira bahwa si ucok dalam perut ini udah nggak sungsang lagi. Yeayyy!!!

Jadi ya bok, sekarang usia si ucok udah 33 weeks. minggu lalu, waktu kontrol rutin ke-32 weeks, dokter bilang, posisi si ucok sungsang. Kalo istilah kedokterannya, si ucok ini dalam posisi Frank Breech: Kepala di atas, pantat di bawah, kaki naik sampe ke muka. Nak, nak, kamu ini pemain akrobat atau apa coba? Hahhaha.. Kalo kata mertua saya: lasak kek mamaknya dia ini. Hahaha.. Oh, she knows me so well 🙂

Breech-Position
source: google

Buat saya yang kepengen lahiran spontan (kalo kata orang “lahiran normal”), kabar ini bak petir di siang bolong. Tsaaahhhh.. Bukannya kenapa-kenapa, tapi saya bosen naik meja operasi lagi. Fyi, I am an IVF survivor. Jadi kebayang ya bok betapa ribetnya hidup gue waktu program mendapatkan si ucok dalam perut ini. Gue kepingin, proses lahirannya bisa lebih alami dan menyenangkan (i wish).

Nah, balik lagi ke sungsang. Jadi setelah om dokter bilang kalo posisi kepala si ucok ada di atas (sejatinya di usia 32 weeks, kepala janin mestinya udah di bawah, karena si janin kudu siap “diluncurkan” anytime soon), jujur, saya stress berat. Sampe om dokter yg tau betul saya ngotot pengen lahiran spontan blg, “Ibu mesti siapin mental untuk lahiran c-section ya.” Hiks.. Pengen nangis rasanya 😦

Saya sempet mikir mau stop aja ikut prenatal yoga. Tapi berhubung udah bayar “uang kursus” yoga sampe lahiran, saya nggak mau rugi dong pemirsa. Hehe.. Si suami bilang, “Ya, at least, kelas prenatal yoga mu selama ini cukup bermanfaat bikin badanmu lebih kuat dan sehat selama hamil.” Ya emang bener sih dia.

Jadi ya pemirsa, sejak hamil 15 weeks, atas seizin dokter kandungan, saya mulai olah raga. Dua macam olah raga yang saya rutin lakukan adalah prenatal yoga dan berenang. Sebenarnya keputusan berolah raga ini bukan karena dari awal saya ingin lahiran spontan, ga kepikiran malah. Tapi lebih karena saya menyadari saya hamil di usia tua. Udah 35 bok gue. Saya kuatir ga sanggup “nenteng-nenteng” si ucok selama 40 minggu sambil liputan sana-sini.

Tapi makin ke sini kok ya saya makin banyak terpapar dengan yang namanya proses lahiran spontan. Ya iyalah, lha wong yang ikut prenatal yoga mayoritas adalah orang-orang yang pengen lahiran spontan. Alhasil, saya pun mulai terpapar dengan “gentle birth” dan “hypnobirthing”. Dua hal ini memang bukan fokus ke lahiran spontan/normal atau c-section. Tapi lebih kepada lahiran yang nyaman dan menyenangkan, terlepas bagaimana proses keluarnya si dede bayi dalam perut. (Saya nggak perlu deh ya jelasin apa itu gentle birth atau hypnobirthing. Banyak bok di google.)

Nah, dua hari setelah kontrol, saya ada jadwal prenatal yoga dengan Mbak Mila di Pro V Klinik di Permata Hijau. Mbak Mila ini adalah seorang bidan yang juga hypnobirthing practitioner. Jadi, di tiap kelas yoga mbak Mila, kita bukan cuma ber-yoga-ria saja, tapi juga diisi dengan sharing pengetahuan tentang gentle birth. Oh ya, fyi, sejak kehamilan di minggu ke-30, saya ikut yoga di dua tempat (maruk!). Yang satu di Yogasana Studio – di Arcadia Senayan (saya ikut yoga di sini sejak kehamilan 15 weeks, nah terakhir ini nambah satu lagi dengan Mbak Mila. Bukan karena maruk, but mostly because I have to learn, I have to empower myself, I have to prepare myself and my baby for a gentle birth process.

Hari itu, mbak Mila nanya, ada yang punya keluhan? Saya langsung aja bilang kalo bayi saya sungsang. Si mbak Mila nanya, saya udah lakuin apa aja untuk memutar si bayi? (Karena dia tau, saya ini udah biasa ikut prenatal yoga). “Downward dog dan puppy pose,” saya bilang. Lalu si mbak Mila nambahin PR saya untuk melakukan dua pose lagi setiap hari agar si Ucok muter.

puppypose
Puppy Pose (source: google)

Saya inget betul, tiap pagi selama 5 hari sejak hari yoga bersama Mbak Mila itu, saya rutin hanya lakukan pose-pose tersebut sambil memberikan afirmasi ke baby Ucok bahwa dia mesti muter kepalanya ke bawah dan ga pake lilit-lilit tali puser. Fyi, ini si Ucok berkali-kali tiap USG selalu ada lilitan tali puser di lehernya. That’s why dia kesulitan buat muter ke bawah.

Oh ya, untuk bumil-bumil di luar sana, sering-sering ya kasi afirmasi ke baby nya dalam perut. Ajak ngobrol/komunikasi, buibu pengen seperti apa, pengen proses lahiran seperti apa. Saya sih sebenarnya udah lama ngelakuin ini. Tapi baru tau istilah “afirmasi” ini setelah mulai mempelajari soal gentle birth. Selama ini, saya taunya kalo perkataan saya penuh kuasa. Jadi saya punya otoritas untuk mencipta sesuai iman percaya saya. Jadi sejak awal banget, jauh sebelum baby ucok belum jadi embrio pun saya selalu tumpang tangan dan bilang perkataan-perkataan iman. Dan afirmasi di dalam gentle birth ini ya kurang lebih seperti itu.

Nah, tiga hari terakhir saya sakit (batuk pilek dan sempet demam dua hari lalu). Ini adalah sakit pertama (hopefully will be the last one during my pregnancy) saya. Mungkin krn cuaca ekstrim, siang panas, sore hujan. Gitu aja tiap hari. Sampe-sampe dua hari lalu, saya semalaman nggak bisa tidur karena batuknya udah parah banget. si baby ucok pun sepanjang malam ga tidur, dia gelisah, kaget juga kali karena saya batuk-batuk dan bersin-bersin plus srot-srot ingus sepanjang malam. Kepala puyeng, engsel-engsel di badan mau copot rasanya. Ah, udah ga bener nih, saya pikir. Akhirnya kemarin, saya putuskan untuk ke dokter aja. Tadinya mau ke UGD aja, tapi papa-mama ga setuju, mending ke dokter kandungan, jadi ga sembarangan kasi obat ntar dokternya.

Akhrinya kemarin siang saya ke RS terdekat dari rumah (ga kuat ke RS Bunda bok, kepala rasanya mau copot). Puji Tuhan, si dokter antrian pasiennya ga banyak, jadi sebagai bumil yang lagi hamil tua plus sakit kepala, batuk pilek, saya nggak ngantri terlalu lama. Singkat cerita, si dokter pun USG utk memastikan kalau si baby baik-baik aja.

And this is the best part.

Dokter : Bagus kok baby nya. Detak jantungnya normal, posisi normal, aliran darah normal.

Saya : Haaa??? Nggak sungsang ya dok? (mulai hilang fokus)

Dokter : Nggak. Kepalanya di bawah kok ini.

Saya : ada lilitan tali puser nggak, dok?

Dokter : nggak ada tuh.

Haleluyaaaa!! Saat itu juga sakit saya rasanya sembuh! Duh Gusti Yesus, kamu kok baik banget. Di balik sakit ini, ternyata ada blessing: ada kabar super mega menggembirakan 🙂 Thank God! Saya pun langsung telpon suami dan si suami gembiranya lebih parah dari saya karena sejak awal yang ngotot untuk lahiran spontan/normal ya dia. Karena menurut dia, saya mah sangguplah kalo lahiran normal (Fyi, sebenarnya dan sejujurnya nih, kalo saya harus c-section, si suami udah ngaku ga berani masuk kamar operasi mendampingi saya katanya. Lha wong cek darah aja dia bisa pingsan. Cemen. Hahaha..)

Moral of the story yang pengen saya share di sini adalah:

  1. Bumil jangan cepet menyerah ya. Usaha terus. There’s always a way out.
  2. Bumil kudu sering-sering kasi afirmasi ke baby. Afirmasinya bisa apa aja. Termasuk proses lahiran (kapan kita pengen si baby dilahirkan, di mana, prosesnya bagaimana, etc.)
  3. Bumil jangan malas dan manja, teruslah memberdayakan diri. Banyak bergerak/olahraga, banyak belajar, cari informasi (bisa dengan googling, ikut kelas-kelas prenatal, seminar, etc)
  4. Bumil mesti ingat bahwa kehamilan itu bukan penyakit, but it is a blessing. So enjoy it!

Semangka!

Life

Diet Digital

Sejak mulai kerja bertahun-tahun lalu, saya jadi jarang nonton TV. Awalnya sih mungkin karena udah capek pulang kerja, akhirnya memutuskan untuk langsung tidur aja. Belakangan, saya juga nggak menemukan nikmatnya nonton TV. Maksudnya di sini adalah, saya males “diatur-atur” sama stasiun TV akan apa yang harus saya tonton. Saya sih maunya, saya yang ngatur apa yang saya pengen tonton. Kalo lagi pengen nonton berita ya cari channel berita. Kalo pengen cari acara memasak, ya cari acara memasak. Masalahnya, kerap terjadi, keinginan saya nggak match dengan apa yang TV bisa tawarkan. Bahkan, TV kabel di rumah akhirnya saya putus setelah bertahun-tahun berlangganan. Kenapa? Ya lagi-lagi, niat awal saya kan pengen nonton apa yang pengen saya tonton, tapi masalahnya, waktunya saya pengen nonton selalu ga match dengan tayangan TV kabel. Alhasil, TV dua biji di rumah nggak ada yang nonton. Paling ya ditonton sama tamu atau saudara yang lagi berkunjung ke rumah. Sisanya? Si TV ya cuma jadi pajangan saja. (Si suami juga bukan penonton TV). Alhasil, sejak tahun lalu saya memutuskan jadi penonton youtube. Nonton doang loh ya, bukan content creator. Kenapa? Because I watch what I want to watch. Trus kalo mau nonton series yang ada di TV kabel gimana? Ummmm… kita mah suami-istri adalah pasangan downloader sejati 😆😆😆 Semua series-nya Marvel dan DC Comics mah saya tonton semua. Saya dan suami lebih mementingkan sambungan internet yang lancar jaya!

Trus yang ditonton di youtube apa dong? Yang ditonton  macem-macem ya. Mulai dari nonton berita, live streaming, talk show, acara memasak, beauty/make up, sampe belakangan nontonin vlog-vlog para celeb-youtube di luar negeri. Kebanyakan sih vlog yg saya tonton adalah family vlog yang keluarganya punya anak masih kecil. Kenapa? Lucu abis bok kelakuannya. Menghibur banget. hehe..

Nah, ada beberapa family vlogger yang saya subscribe. Para family vlogger ini biasanya upload vlog baru dengan frekuensi cukup tinggi. Ada yg 2 hari sekali, ada yang 3 hari sekali, bahkan ada yg tiap hari. What? Tiap hari??? Tadinya sih saya hepi-hepi aja sama family vlogger yang upload video baru tiap hari. Saya juga ga pernah bertanya : “do they have social life?” “Do they have time for their family” (Since they have to vlogging, editing and uploading video everyday). Tapi sih yang saya tau, para family vlogger ini pastinya banyak duit. Subscribers-nya dan viewers-nya ada yang mulai dari ribuan sampe ratusan ribu, bahkan ada yang jutaan. Yang endorse pasti banyak banget bok. Mulai dari produsen kebutuhan balita, produsen make up (buat si ibu), produsen alat-alat pertukangan buat si ayah, etc. Contoh simple, Awkarin aja kabarnya dapet Rp30-an juta sebulan ye kan? Apalagi ini? Sekeluarga bok bisa promosiin apa aja!

Nah, level hepi-hepi saya mulai berkurang sejak belakangan ini saya mulai sedikit menambah khasanah channel tontonan saya ke contents parenting dan pregnancy (i am on my 13th weeks of pregnancy by the way). Topik yang sedang saya tonton belakangan ini adalah konten mengenai “Anak dan gadget/TV”. Di situ dibahas  bahwa anak usia dini, khususnya yg berusia 0-24 bulan TIDAK memerlukan TV atau tidak perlu dipaparkan dengan segala jenis gadget. Usia 3-5 thn, boleh. Tapi hanya 1 jam sehari, itu pun content-nya selected (browsing sendiri ya pemirsa content apa aja. Atau konsultasi ke dokter anak anda). Begitu seterusnya sampai gede.

Solusinya bagaimana? Menurut channel yang saya tonton itu, semuanya dimulai dari orang tua. Orang tua HARUS menjauhkan anak dari TV dan gadget. Bahkan, orang tua HARUS diet memakai gadget dan diet menonton TV. Karena, kecenderungan anak adalah meniru, khususnya meniru apa yang orang tuanya lakukan. Kalo ortu-nya saban hari melototin gadget/TV, kapan main sama anak? Alhasil, anak pun minta ikutan. Atau malah banyak yang lebih parah: anaknya dicekokin TV/gadget, dengan alasan supaya anaknya nggak nangis. Hasilnya? Anak telat bicara (tontonan tidak berbahasa Indonesia, atau tontonan berupa tayangan tanpa percakapan), anak susah berinteraksi, anak melengos kalo dipanggil, etc. Trus kapan ortu boleh nonton TV atau pakai gadget? Pas anak tidur. Toh jam tidur anak panjang bukan?

Okay, easy to know, but hard to do. Yes parents? I think so. My husband and I discussed about it very frequently recently. Mumpung si bayi belom lahir ye kan? Jadi kita banyak-banyak bikin konsensus dulu di awal, biar ntar kalo si bayi lahir, kita tinggal jalan dengan berpatokan pada konsensus-konsensus ini 😁😁😁 –> rencana jangka panjangnya sih pengen bikin kurikulum buat bocah dalam perut ini kelak kalo dia lahir. Kami bukan pengen jadi orang tua yang obsesif, tapi kami mencoba dan berusaha keras mendidik anak sebagaimana mestinya, kembali ke fitrahnya: bahwa anak harus bermain (bukan dengan gadget) dan bukan nonton TV.

Nah balik lagi ke youtube. Kemarin, pas saya lagi buka yotube, family vlogger yg saya subscribe bikin big announcement: they will no longer upload a daily vlog anymore. Mereka juga nggak tau akan seberapa sering akan upload vlog. Could be weekly. Could be monthly. It depends on how much time they have left after taking care of their children. The vlog was very emotional (the wife was cryring), surprising, but relieving. Saya tonton  video itu sampe habis and I found out bahwa sang istri mulai menyadari dia nyaris ga punya waktu buat keluarga dan menjadikan aktivitas edit dan upload video jadi yg utama compare to taking care of her daughters 😭

Dari vlog di youtube ini saya belajar bahwa sebenarnya bukan anak yang butuh “diet” TV dan gadget, but parents! Why? Because parents are the one who introduce TV and gadget to their kids. Kids? They know nothing! Thank God, saya belajar hal ini jauh sebelum kami punya anak.

Tulisan ini saya buat bukan untuk menasehati atau menyindir orang lain. Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan saya dan suami bahwa kami harus Diet Digital. Bahwa hidup itu proses belajar. Dan kita bisa belajar dari mana saja. Setuju?

Life

We (will) have a baby!

Foto buat akta nikah akhirnya go public juga

Sebenarnya dan sejujurnya saya belum kepengen posting tulisan ini sampe usia kehamilan mencapai 12 minggu (which will happen in the next 4 weeks). Tapi apa daya, Morula udah telanjur posting foto saya di Facebook. Ketahuan juga akhirnya. Hehehehe..
Jadi semuanya berawal karena diskon. Meskipun diskonnya ga seberapa (ga nyampe Rp5 juta kalo ga salah). Ya namanya perempuan ye kan, diskon adalah alasan terkuat untuk belenjong. Yang percaya katakan Amen! 😆😆😆

Saya dan suami sebenarnya udah berencana dari awal tahun untuk ikut program bayi tabung. Tapi nggak kunjung terealisasi karena kita sama-sama banyak alesan. Kenapa bayi tabung? Kenapa ga inseminasi? Kenapa ga terapi hormon? Kenapa ga ke tukang pijet? Atau sekalian aja kenapa ga ke dukun patah? Hahahhaha.. Saya juga lupa jawaban persisnya apa. Kami cuma menganggap program IVF (in vitro fertilisation) atau yg lbh dikenal dengan bayi tabung kami anggap program menuju punya anak yang peluang berhasilnya paling tinggi –> based on our “cupu” research. Apalagi pada akhirnya kami tau bahwa saya terkena PCOS.

Oh ya ini juga usaha kami untuk punya anak yang pertama kali kami lakukan (mudah-mudahan jadi yang terakhir). Kenapa pertama? Karena kami memang belum pernah nyoba program yg lain dan kalo gagal, sepengetahuan kami, ga ada program lain yg bisa dicoba setelah ini. Dead end. Ya kalo ngomong pengobatan alternatif, forget about it. Kami berdua memang ga pernah percaya sama hal-hal begindang ya pemirsa. Jadi we are close for discussion about those “pengobatan alternatif” thing.

Nah, karena saya dan suami memang udah berencana ikut program bayi tabung, jadi saya udah follow akun instagram-nya Morula sejak awal tahun. Oh ya, Morula adalah klinik fertilitas milik RS Bunda. Pas saya buka di instagram, ada iklan promo program bayi tabung: selama bulan Juli 2016 ada diskon untuk program IVF. Sebagai perempuan modis (baca: modal diskon), tanpa ba bi bu, saya langsung dong meluncur ke TKP. Oh ya, kami memilih untuk ikut program di klinik Morula RS Bunda Margonda karena menurut google map, jarak antara rumah dan RS Bunda Margonda sekitar 21 km, sementara ke RS Bunda Menteng bisa dua kali lipatnya. Belum lagi urusan kena “ganjil-genap”. Ya udahlah ya, ga udah menantang maut ye kan. Hidup udah susah, ga usah ditambahin susah lagi emmmm???

Oh ya, tips pertama bagi yang pengen ikut program IVF, carilah RS atau klinik fertilitas yg terdekat dari rumah. Kenapa? Karena ada fase suntik tiap malam selama hampir 2 minggu yang harus diikuti. Ga boleh bolong! Dan ada kalanya, dalam sehari harus 2x ke RS. Jadi kebayang kan kalo tiap malam harus berjuang 50 km. Saya sih males ya. Oh ya, ada juga sih yang nekat suntik sendiri. Saya sih nggak, nggak tau kalo mas Anang ya 😜

Setelah daftar, kami disuruh ikut screening suami-istri untuk ngecek apa sebenarnya yang menjadi masalah ketidaksuburan. Puji Tuhan, suami baik-baik saja, spermanya bagus dan jumlahnya banyak. One problem solved. Masalahnya ternyata ada di saya. I was diagnosed with PCOS (Polycystic Ovary Syndrom). Apa itu PCOS? Silakan google ya buibu. Banyak kok penjelasannya. Saya cuma bisa kasi penjelasan dikit.

Long story short, jadi ovarium saya ini ibarat pabrik produk Cina. Produksi massal dalam jumlah besar, tapi ga berkualitas. Ovarium saya memang menghasilkan sel telur yang buanyak tiap bulannya, hanya saja kecil-kecil, perkembangannya lambat banget dan nggak kunjung membesar. Di awal program, ukuran folikel saya rata-rata 0.6-0.7 cm. Kecil kan? Padahal expected size-nya itu mestinya 1.8 cm untuk siap dibuahi. That’s why after almost five years of marriage, we haven’t had any kids yet.

Program pun dimulai saat saya menstruasi hari ke-2. Kalo nggak salah, sekitar tanggal 10 Agustus. Tiap jam 7 malem saya standby di RS utk menerima suntikan. Pengen tau suntiknya di mana? Perhatikan puser Anda, taruh dua jari mendatar di bawah puser. Nah di situ area suntik saya selama 12 hari. Ya 12 hari pemirsa. Suntiknya ya di situ-situ aja.
Oleh dokter Mira Myrnawati yang cantik dan baik hati, saya dikasi suntikan awal (untuk 4 hari pertama) dengan dosis 225. Setelah 4 hari suntikan, cek darah dan USG utk ngecek perkembangan folikel. Hasilnya? Ga berkembang pemirsa! Saya resmi stress!!

Akhirnya dosis ditambahin lagi jadi 300 untuk dua hari ke depan. Setelah itu cek darah lagi dan USG lagi. Hasilnya? Berkembang sih, cuma ga signifikan. Ga ada folikel yang ukurannya di atas 1 cm. Bayangin pemirsa, udah 6 hari disuntik, masih juga susah berkembang. Iman saya diuji bener ini mah. Nangis ga? Ga usah ditanya. Percayalah, saya ini tampang Rambo, hati hello kitty. Buat yang suka beredar di mall-mall di Depok, mungkin Anda pernah liat perempuan nangis-nangis sendirian di mall? 90% itu saya! Percayalah! Ga usah ragu lagi. Atau pernah lihat perempuan nyetir sendirian di daerah Depok ke arah Cibubur sambil berurai air mata? Itu juga saya. Ga usah ragu pemirsa.

Cengeng? Oh man. Umur gue udah 34. Semakin tua, semakin beresiko untuk punya anak. Kenapa kami memutuskan untuk ikut program IVF sekarang, karena kami berharap saya bisa melahirkan di usia yang nggak lewat dari 35. Emang kenapa kalo lewat dari 35 tahun? Google sendiri ya buibu resiko-resikonya. We did our own research before taking this giant step.

Di tengah rasa frustrasi, sama dr Mira, dosis suntikan saya dinaikin lagi, jadi 375. Enak? Nikmat dunia akhirat pemirsa. Kenapa? Setiap malam, saya harus disuntik 3x di area yang sama. Ingat ya, di area yg sama. Dan 3x. Jangan lupa itu. Rasanya gimana? Ga usah dibayangin deh. Saya mah kalo ga pengen banget punya anak, ga bakal mau kayaknya liat perut biru-biru lebam macam abis ditonjok Mike Tyson akibat disuntik tiap hari. Bahkan di momen-momen suntikan terakhir, perut saya membuncit bak hamil 5 bulan. Begah, bloated, macam mau meledak (ini disebut OHSS). Puji Tuhan, setelah dinaikin dosis suntikan, si folikel yg berisi oocyte ini pun membesar, diikuti perut yang membuncit. Puji Tuhan, ada yg ukuran 2 cm, meski nggak banyak. At last! 

Di akhir-akhir fase suntikan ini, saya sempet curhat sama dokter Mira kenapa saya kok lama banget fase suntiknya. Sampe 12 hari bok! Saya sempet bilang sama dokter Mira, “Dok, kalau diandaikan saya ini murid di dalam sebuah kelas, saya adalah murid paling bodoh kali ya? Udah dijarin berulang kali, ga nangkep-ngangkep juga (baca: udah dikasi fase suntikan panjang, dosis tinggi, folikelnya masih juga susah berkembang ke expected size).” Dokter Mira senyum-senyum dengernya. Soalnya, salah seorang temen saya yang juga sesama IVF survivor, cuma butuh 8x suntikan dengan dosis 150 (jadi, suntikannya cuma 1x sehari, ga semalang nasib saya yang 3x sehari). 

baru keluar dari ruang operasi pasca OPU
Tanggal 25 Agustus, saya panen sel telur. Kalo di Morula, pake istilah OPU (Ovum Pick Up). Operasinya berlangsung kurang lebih 1 jam dan dibius ya pemirsa. Puji Tuhan lagi, ada 14 oocyte yang berhasil dipanen. Dari 14 oocyte, ada 4 yg belum mateng. Artinya hanya 10 oocyte yang akan dibuahi sama sperma. Dari hasil pembuahan, hanya 4 yang membelah menjadi embryo dengan kondisi: 3 good, 1 moderate. Stress? Ya iyalah. Pasien lain pada punya embryo buanyak. Di atas 5 bahkan ada teman saya yang embryo-nya sampe belasan dengan kondisi embryo excellent. Sementara hayati? Hayati mah lelah ya. Tapi ya sudahlah. Que sera sera. Whatever will be will be.

kiri: sebelum Embryo Transfer bersama dokter-dokter dan suster-suster hebat; kanan: usia kehamilan 8 weeks
Dua hari kemudian, embryo ditransfer (ET) ke rahim. Saat ET, dokter Mira ngusulin untuk tansfer 1 embryo good dan 1 embryo moderate. Suami saya nggak setuju. We prayed. Finally, we decided to transfer 2 good embryos. We froze the rest at the hospital, in case this one didn’t work out.

our embryos: we transfer those two babies in the middle
Lalu tibalah pada fase mendebarkan: 2WW (two weeks waiting). Buibu para IVF survivor pasti tau betul rasanya. Ini semacam 2 minggu sebelum terima rapor atau 2 minggu sebelum Jessica nerima putusan hakim atas kopi Vietnam rasa sianida yang (katanya) ditaro di kopi Mirna. Apa sih!

Saya minta cuti dua minggu dari kantor. Dikasi banyak pantangan ini-itu demi menjaga agar si embryo menempel di rahim. Hari pertama, saya stress. Hari kedua, stress bertambah 7x lipat. Kebayang kan kalo hari ke-3 stress-nya gimana? Mungkin keluar api dari mulut saya. Naga keles. Kerjaan saya tiap hari cuma baca buku dan melotoin laptop (selain ke WC, makan, minum dan tidur). Selama dua minggu, si suami jadi ojek gendong. Karena kamar kami di atas. Dan saya belum sempet beberes kamar bawah sebelum ET. Jadi ya udahlah ya, kami tetap tidur di kamar atas.

Sebelum menginjak hari ketiga, si suami udah kasian liat saya yang cuma bisa ngejogrok di kasur. Again, we did our research: what to do during 2WW? Praise God! There is no such thing that total bedrest will help the embryo attach on the uterus. Malah para buibu IVF survivor di luar negeri mayoritas melakukan aktivitas yang menyenangkan (kecuali kalo Anda emang menganggap bedrest itu menyenangkan. Saya sih nggak. Nggak tau kalo mas Anang). Jadi ada yang hobi masak, ya masak. Yang demen gardening ya gardening. Malah ada yang decorating home. Ya nggak geser lemari juga keles. Intinya sih melakukan aktivitas menyenangkan (tapi ga melelahkan) yang bikin kepala ga stress. Karena, IMHO, pasien IVF butuh dukungan hormon utk men-support embryo di rahim. Hormon dihasilkan atas perintah otak. Jadi kalo otaknya stress, hormon apa yang dihasilkan? Saya sih nggak paham ya. Yang saya percaya Amsal 17:22 bilang “Hati yang gembira adalah obat yang manjur.” So, I think I just need to be happy to produce good hormones for the baby. 

Begitu si suami lihat istrinya udah macam tahanan kota, dia langsung bawa saya kabur ke mall. Ke mall? Ya ke mall. Udah jujur aja deh, perempuan mana yang nggak hepi diajak suaminya ke mall? Saya percaya, semua pasti berkata : Amen! Hahahahha.. Jarang-jarang loh si suami ngajakin saya ke mall. Biasanya juga saya sendirian ke mall. 
Besoknya ngapain? Saya ke pasar. Saya masak. Masak pasta aglio olio tuna, besoknya pasta yang sama, tapi pake salmon. Besoknya masak soto padang. Maklum, anaknya emang demen masak pemirsa. Besokannya ke bioskop. Besokannya lagi ke toko buku. Besokannya lagi shopping-shopping ke mall. Ya gitu deh seterusnya. Yang penting aktivitasnya ga melelahkan tapi menyenangkan. 

Trus, apakah saya penasaran dengan rapor yang akan diterima tanggal 10 September? Ya iyalah. Tapi rasa penasarannya berkurang drastis. Mungkin kurang dari 50%. Gini ya buibu, program IVF ini bukan urusan kita doang sebagai perempuan. Tapi juga suami. Sejujurnya, suami saya yang tidak romantis itu telah berkata: “Kalaupun kita nggak bisa punya anak, aku tetap mencintaimu.” Ga percaya si suami ngomong begitu? His eyes told me so *lope-lope. Jadi ya saya sih udah pasrah aja. Kalo hasil BHCG jelek, saya juga ga bakal coba lagi. Saya hanya tiba pada kesimpulan bahwa Tuhan yang kami sembah selama ini, ga kasi kami upah di dunia, tapi nanti. Dan setiap doa pagi saya, saya selalu bilang sama Tuhan: “Sekalipun program ini gagal dan saya nggak bisa hamil dan melahirkan anak, aku tetap menyembahMu, aku tetap memujiMu, aku nggak akan kecewa.” 
Oh ya, sejak awal pernikahan, saya dan suami udah punya pemikiran yang sama bahwa anak/keturunan adalah bonus. Ibarat beli motor, loe ga dikasi bonus helm atau jaket. Trus ngamuk-ngamuk gitu? Biasa aja keles. Kalo suami saya malah sebelum kita sign up program IVF, dia udah nawarin untuk adopsi anak aja. Katanya supaya saya nggak capek ikut program dan hamil. Saya aja yang keukeuh ga mau. Semakin mendekati terima rapor a.k.a test BHCG, saya makin pasrah. Udah niat mau kursus diving aja kalo gagal, biar kalo suatu saat nanti ke Raja Ampat nggak snorkeling doang bisanya. Hehe.. 

10 September pun tiba. Saya cek darah pagi. Trus kami nggak nunggu karena kata orang lab di RS Bunda, hasilnya siang/sore. Ya kami mau pulang aja, karena biasanya hasil cek darah selalu ditelpon sama suster-suster cantik dan baik hati di Morula. Dodol? Ya iyalah. Lha wong udah pasrah. Akhirnya jam 1 siang ditelpon sama suster, kalo BHCG saya bagus: 614. Saya dan suami: seneng sih, tapi dengan ekspresi datar. Dodol bukan? Kita disuruh suster untuk langsung balik ke RS utk ketemu dokter saat itu juga. Kita balik deh ke RS dan ketemu dokter Mira.

Sebenarnya, penasaran terbesar saya bukan apakah hasilnya positif atau nggak, tapi apakah kantong kehamilannya 1 atau 2? Kembar atau nggak? Pede banget ye kan? Orang mah ngarep positif, saya ngarep hamil 1 anak aja, jangan kembar. Jadi boleh dikata, momen yang paling deg-degan dan excited ya waktu USG di kehamilan minggu ke-6 (sekitar tanggal 24 Sept kalo nggak salah). Saya penasaran bukan main. Makanya pas tau kantongnya cuma 1, saya melonjak kegirangan. Praise the Lord! Momen paling excited seumur hidup keknya.

Sekarang kehamilan saya akan memasuki minggu ke-9. Lagi mual-mualnya pemirsa. Tapi ya mual-mual ini nggak seberapa dibanding program IVF yang udah saya lewati. Trust me!

So, untuk para buibu IVF survivor, saya cuma mau pesan: Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Jangan stress, ntar obatnya nggak manjur hehehe.. percaya aja, kalo rejeki mah ga ke mana ya. 

Salam dua garis! 

Published articles

Ubud Writers and Readers Festival

Southeast Asia’s largest and most renowned cultural and literary event, Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), will return this year for its 12th edition  from 28th October to 1st November at Bali’s cultural heart, Ubud. This upcoming festival will celebrate the theme”17,000 Islands of Imagination”, which was chosen by the Frankfurt Book Fair.

UWRF includes more than 200 events comprising 85 panel discussions, lunches, workshops, night parties, poetry slams, food tours and more, over five days. The festival has elected to present a united front in order to best showcase the rich literature and arts of the country to the world.

The festival will be attended by 160 authors from more than 25 countries which include American literary giant and Pulitzer Prize laureate, Michael Chabon, award-winning British foreign correspondent Christina Lamb, founders of the acclaimed Lonely Planet series Tony and Maureen Wheeler, and celebrated Pakistani author of ‘How to get filthy rich in rising Asia’,  Mohsin Hamid.

This prestigious festival will showcase talents from across Asia, including North Korea defector and TED-talk sensation, Hyeonseo Lee, and American author Elizabeth Rush, whose book ‘Still Lifes’ showcases her photographs of Yangon.

This year, discounted festival passes are available for ASEAN citizens. The ASEAN 4-Day Pass, which will be available to nationals from Malaysia, the Philippines, Singapore, Thailand, Brunei, Cambodia, Laos, Myanmar and Vietnam, offers 20% off the international ticket price.

The 4-Day Pass (ap US$223), the 1-Day Pass ($67) and the international visitor pass – for those without ASEAN passports – are all available for online purchase through the event’s website www.ubudwritersfestival.com

The Ubud Writers & Readers Festival is the major annual project of the non-profit foundation, the Yayasan Mudra SwariSaraswati. It was first conceived by Janet DeNeefe, co-founder of the Foundation, as a healing project in response to the first Bali bombing. The mission of UWRF is to create a world class festival that celebrates extraordinary stories and amplifies brave voices, tackles global issues and big ideas.

*This article is published on indonesia.travel website